Bagaimana Bayi Belajar Bahasa?

SHARE

      Bahasa merupakan aspek penting yang ada dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu setiap individu dapat berkomunikasi satu sama lain. Namun, bahasa bukan hanya menjadi alat komunikasi tetapi juga aspek penting dalam membangun peradaban yang berkebudayaan. Oleh karena itu, bahasa menjadi kemampuan yang paling menakjubkan. Menariknya, setiap bayi yang dilahirkan sudah memiliki potensi yang besar untuk mempelajari suatu bahasa, meskipun masih belum mampu untuk berbicara. Tidak melalui proses yang instan, bayi akan melewati proses perkembangan yang alami dan berkesinambungan. Selain itu, kemampuan berbahasa pada bayi akan berkembang dengan pesat dalam beberapa tahun awal kehidupan. Lalu, bagaimana bayi belajar bahasa? 

 

      1. Tahap Awal: Menangis dan Mengenali Suara 

   Dimulainya proses belajar bahasa bagi bayi adalah sejak mereka lahir, dan tangisan mereka merupakan cara utama untuk berkomunikasi dengan orang tua. Rasa lapar, ketidaknyamanan, atau bahkan sekedar kebutuhan akan perhatian bisa disampaikan melalui tangisan mereka. 

 

Ketika menginjak beberapa minggu pasca dilahirkan, bayi akan sudah mampu untuk membedakan suara. Oleh karena itu, mereka sudah mulai dapat mengenali suara ibu, intonasi bicara, bahkan suatu irama bahasa tertentu. Hal inilah yang menyebabkan keterlibatan orang tua dalam berinteraksi dengan bayi sangat penting dalam proses penguasaan bahasa mereka. Suara yang akrab bagi bagi bukan hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga menjadi dasar perkembangan bahasa pada bayi. 

 

      2. Tahap Mengoceh (Babbling) 

   Ketika bayi menginjak usia 4 hingga 6 bulan, bayi sudah memasuki tahap dimana ia dapat melakukan babbling atau mengoceh. Pada tahap ini, bayi mampu memproduksi suara seperti “ba-ba,” “da-da,” atau “ma-ma.” Meskipun belum memiliki arti, latihan pengucapan suara-suara tersebut dapat membantu bayi untuk menggerakkan organ yang dibutuhkan dalam berbicara seperti lidah, bibir, dan pita suara.  

 

Selain itu, mengoceh juga dapat menjadi sarana bagi bayi untuk bereksperimen dalam memproduksi suara-suara baru. Meskipun suara-suara yang dihasilkan masih belum memiliki makna, bayi melakukannya dengan meniru intonasi yang orang tua gunakan saat berbicara. Hal ini membuktikan bahwa dalam proses penguasaan bahasa, bayi melakukannya dengan melakukan imitasi atau meniru.  

  

     3. Mengenali Kata Pertama  

   Ketika bayi telah menginjak usia 9 hingga 12 bulan, mereka sudah mulai memahami bahwa setiap kata yang terucap memiliki makna tersendiri. Di tahap ini, mereka mampu mengenali ungkapan atau kata sederhana seperti “halo,” “mama,” atau “papa.” Kemampuan dalam memahami hal tersebut biasanya datang lebih dulu daripada kemampuan untuk berbicara.  

 

Meskipun bayi pada tahap ini belum mampu untuk memproduksi berbagai macam kata, mereka mulai mampu dalam merespons bahasa yang dilontarkan sekitarnya. Misalnya, bayi merespons dengan menoleh ketika dipanggil namanya atau tertawa ketika diberi pujian serta gurauan. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan dalam memahami bahasa (receptive language) pada bayi dapat berkembang lebih cepat dari kemampuan mereka dalam berbicara (expressive language).  

 

      4. Tahap Kata Pertama dan Kalimat Sederhana 

   Pada tahap ini, bayi telah menginjak usia 12 hingga 18 bulan dimana mereka telah mampu untuk mengucapkan kata pertama kali. Karena bayi belajar melalui suara-suara yang sering terdengar, kata-kata yang dihasilkan pun tidak jauh dengan hal-hal yang terdengar familiar seperti “mama,” “papa,” atau “susu.” 

 

Seiring berjalannya waktu, perkembangan bayi dalam berbahasa akan semakin pesat. Misalnya adalah ketika anak sudah beranjak pada usia dua tahun. Di saat ini lah anak sudah mampu untuk mengucapkan kalimat sederhana yang menjadi tanda atau tahap awal bahwa mereka telah mampu benar-benar mengekspresikan keinginan, perasaan, dan kebutuhan. 

 

      5. Peran Lingkungan dalam Belajar Bahasa 

   Lingkungan merupakan faktor terpenting dalam tumbuh kembang anak, terutama kemampuan mereka dalam berbicara. Oleh karena itu, anak yang sejak bayi sering diajak berinteraksi, dibacakan dongeng, atau diajak bernyanyi bersama cenderung mengalami perkembangan bahasa yang lebih pesat. 

 

Orang tua memiliki peran yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa anak melalui intensitas interaksi yang dilakukan sehari-hari. Selain itu, respons orang tua terhadap bahasa sederhana yang dibicarakan bayi dapat memberikan pemahaman bahwa komunikasi merupakan hal yang menyenangkan dan bermakna. Dalam membedakan pola suara, kosakata, dan tata bahasa, bayi perlu secara konsisten untuk mendengarkan bahasa. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menstimulasi kemampuan verbal si kecil sejak dini.  

 

Menangis, mengoceh, mengenali kata, hingga akhirnya dapat mengolah kata-kata menjadi kalimat merupakan proses  atau tahapan yang dilalui bayi dalam menguasai bahasa. Kemampuan yang dimiliki manusia serta stimulasi dari lingkungan merupakan faktor penting yang dapat membantu mempercepat proses pembelajaran bayi dalam berbicara. 

 

Sebagai orang tua atau pendidik, kita dapat membantu proses perkembangan bahasa pada anak kita dengan menjaga intensitas interaksi dalam kehidupan sehari-hari seperti dengan sering mengajak mereka bicara, membacakan dongen, serta mengajak anak untuk bernyanyi bersama. Selain itu, selalu memberikan respons terhadap komunikasi mereka juga sangat penting. Hal itu bukan hanya untuk membantu pembelajaran bahasa mereka, tetapi juga memberikan rasa dihargai dan didukung untuk melalui perjalanan awal kehidupan mereka.