Bung Hatta, Proklamator Sekaligus Polyglot

SHARE

      Sebagai warga rakyat yang berbakti, sudah pasti mengenal Bung Hatta yang dikenal sebagai wakil presiden pertama Indonesia atau Bapak Koperasi. Tapi, tidak disangka bahwa beliau memiliki sisi lain yang tidak begitu sering dibahas banyak orang yaitu beliau mampu berbicara dalam banyak bahasa!  Jelas sudah kalau banyak orang menyebutnya sebagai salah satu tokoh paling cerdas dan berwawasan luas pada masanya. 

 

      Suka Belajar Sejak Kecil 

      Bung Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, tahun 1902. Sejak kecil, ia sudah terkenal tekun dan senang membaca. Waktu teman-temannya main, Hatta lebih suka menghabiskan waktu dengan buku. Ia tumbuh di keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan dan kedisiplinan. 
Kebiasaan membaca inilah yang jadi awal dari kecintaannya pada ilmu pengetahuan  dan juga pada bahasa. 

Ketika beranjak dewasa, Hatta melanjutkan studi ke Belanda. Di negeri orang itulah ia semakin sadar betapa pentingnya bisa berbahasa asing. Karena dengan bahasa, ia bisa mengakses begitu banyak ilmu dan berkomunikasi langsung dengan orang-orang dari berbagai negara. 

 

      Bisa Banyak Bahasa 

      Bung Hatta dikenal bisa berbicara dalam beberapa bahasa asing, selain tentunya Bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya, Minangkabau. Ia fasih berbahasa Belanda karena lama menempuh pendidikan di sana. Tapi tidak berhenti di situ ia juga bisa bahasa Inggris, Jerman, dan Prancis! Bahkan ia memahami dasar bahasa Arab dan Latin dari pelajaran agama dan bacaan akademik. 

Bayangkan, di zaman belum ada Google Translate, Bung Hatta sudah bisa membaca buku-buku filsafat, ekonomi, dan politik dari sumber aslinya. Ia membaca karya tokoh besar seperti Adam Smith, Karl Marx, sampai John Stuart Mill langsung dari teks aslinya. Dari situlah banyak pemikiran Hatta terbentuk, termasuk gagasannya tentang ekonomi rakyat dan koperasi. 

 

      Belajar dengan Disiplin 

      Kalau ada satu hal yang bisa kita tiru dari Bung Hatta, itu adalah disiplin belajarnya. Ia punya kebiasaan membaca setiap hari dan mencatat kata-kata asing yang baru ditemui. Ia juga sering menulis ulang kalimat dalam bahasa asing supaya lebih hafal dan paham maknanya. 
Bahkan saat diasingkan ke Banda Neira, beliau tetap membawa buku-buku asing dan tetap belajar setiap hari. Menurutnya, belajar bahasa bukan sekadar menghafal kata, tapi juga cara memahami cara berpikir orang lain. Dari sanalah ia belajar melihat dunia dengan lebih luas. 

 

      Bahasa sebagai Kekuatan 

      Kemampuan Bung Hatta berbicara banyak bahasa bukan cuma prestasi keren, tapi juga jadi kekuatan besar dalam perjuangan bangsa. Ia bisa berdiskusi dengan tokoh-tokoh internasional, membaca berita dunia tanpa terjemahan, dan tahu bagaimana politik global berjalan. 
Pemahamannya terhadap berbagai bahasa membuatnya mampu membawa ide-ide baru untuk Indonesia yang baru merdeka yaitu ide tentang keadilan sosial, ekonomi mandiri, dan pendidikan bagi semua. 

Dari Bung Hatta, kita belajar bahwa bahasa itu bukan sekadar alat komunikasi, tapi jendela untuk memahami dunia. Ia membuktikan kalau kemampuan berbahasa bisa membuka jalan menuju kemerdekaan berpikir. 

Di era sekarang, belajar bahasa asing mungkin terasa sulit, tapi kalau Bung Hatta bisa mempelajarinya di masa tanpa internet, bukankah kita juga bisa dengan segala akses internet yang kita miliki? Seperti pepatah yang diujarkan oleh Bung Hatta‘‘semakin banyak bahasa yang kamu kuasai, semakin luas pula dunia yang bisa kamu jelajahi.‘‘ 

 

    Referensi 

  1. https://tokoh.id/mohammad-hatta/  

  1. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id