Humor Beda Bahasa? Berikut 5 Cara Menerjemahkan Humor agar Tetap Lucu dalam Bahasa Lain.

SHARE

   Pernah dengar humor, “Teh apa yang pahit? Teh realitea!”? Dalam bahasa Indonesia, lelucon ini mengandalkan permainan kata antara “realita” dan “tea” yang terdengar cocok. Tapi ketika diterjemahkan secara literal ke dalam bahasa Inggris menjadi “What tea is bitter?”, kelucuannya hilang seketika. Alih-alih memancing tawa, hasil terjemahannya malah terasa kaku dan tidak nyambung. 

   Fenomena ini bukan kebetulan. Humor adalah salah satu bentuk ekspresi bahasa yang paling kompleks karena tidak hanya bergantung pada arti kata, tapi juga pada konteks sosial, referensi budaya, ritme bunyi, serta intonasi emosional yang menyertainya. Sebuah humor bisa sangat lucu di satu budaya, tapi membingungkan di bahasa lain jika diterjemahkan secara kaku. Karena itulah, dalam menerjemahkan humor baik untuk subtitle film, promosi, hingga konten media sosial peran penerjemah masih sangat diandalkan. Karena menerjemahkan humor tidak sekedar menerjemahkan kata demi kata, melainkan juga menyaring makna, mengalihkan nuansa, dan menyusun kembali humor agar tetap terasa lucu di bahasa sasaran. 

   Lalu, bagaimana cara menerjemahkan humor? Berikut lima strategi yang bisa digunakan untuk menjaga humor tetap lucu meski berbeda bahasa.

   1. Pahami Budaya di Balik Humor

   Langkah pertama dalam menerjemahkan humor adalah memahami budaya dua bahasa. Sebab,humor tidak berdiri sendiri. Humor lahir dari kebiasaan, tokoh populer, stereotip masyarakat, dan cara pandang suatu komunitas. Kalau unsur-unsur ini tidak dikenal oleh pembaca dalam bahasa sasaran, humor akan terasa hambar, bahkan tidak dimengerti. 

Contohnya, humor orang Sunda tentang “Kabayan yang pelit”. Dalam konteks budaya setempat, Kabayan adalah tokoh jenaka yang dikenal luas, dan sifat pelitnya bisa memancing tawa karena penonton sudah familiar dengan karakternya. Tapi jika diterjemahkan mentah-mentah menjadi “stingy village man”, maka yang tersisa hanyalah kalimat datar tanpa latar belakang. Pembaca asing tidak tahu siapa Kabayan, mengapa ia pelit, dan apa lucunya. 

Agar tetap lucu, penerjemah bisa mengganti Kabayan dengan tokoh yang punya peran serupa dalam budaya target, seperti “village fool” atau karakter komedi khas Amerika seperti “hillbilly”. Dengan begitu, audiens bisa menangkap maksud dan rasa dari humor tersebut, meskipun tidak mengenal budaya asalnya secara langsung. 

   2. Ciptakan Permainan Kata 

   Permainan kata adalah elemen khas dalam humor. Ambil contoh lelucon dalam bahasa Indonesia: “Bubur apa yang genit? Bubur sumsum!” Kelucuannya muncul karena ada kemiripan bunyi antara “sumsum” dan “mesem” (senyum genit dalam bahasa Jawa). Tapi jika diterjemahkan secara langsung menjadi “What porridge is flirty? Marrow porridge!”, hasilnya terasa datar dan membingungkan karena tidak ada permainan bunyi.  

Penerjemah bisa menciptakan versi baru yang tetap terasa lucu di bahasa target. Misalnya, dalam bahasa Inggris“What porridge flirts? Sweet grits!” Kata “grits” merujuk pada bubur jagung khas Amerika, dan “sweet” memberi kesan genit yang ringan. Walaupun terjemahan ini tidak persis sama, efek humornya sedikit bisa dirasakan. 

   3. Tangkap Nada yang Bikin Humor Tetap Hidup

   Humor juga hidup dari nada bicara. Kalimat yang sama bisa terdengar lucu atau datar tergantung bagaimana cara mengatakannya apakah sarkastik, ceria, atau sinis.

Contohnya, dalam sinetron, ucapan “Pintar banget sih kamu!” bisa jadi sindiran tajam. Jika diterjemahkan menjadi “You’re so smart,” maknanya menjadi datar dan kehilangan efek sarkastik. Penerjemah bisa memilih frasa seperti, “Oh, aren’t you just a genius?” agar makna sindiran tetap tersampaikan. 

   4. Pakai Referensi Media yang Dikenal

   Selain nada, referensi media juga sering digunakan dalam humor. Namun, referensi lokal tidak dikenal oleh pembaca dari budaya lain. Karena itu, penerjemah perlu menggantinya dengan media yang lebih familiar bagi audiens sasaran. Misalnya, lelucon tentang “Tukang Ojek Pengkolan” bisa diganti dengan “The Office” untuk pembaca Amerika, asalkan konteksnya disesuaikan. Tujuannya adalah menjaga koneksi dan daya tarik humornya. Referensi yang tepat membuat humor terasa relevan dan mudah dipahami oleh pembaca dari budaya lain.

   5. Uji Coba dengan Penutur Asli

   Langkah terakhir yang tak kalah penting adalah menguji hasil terjemahan pada penutur asli. Penerjemah bisa merasa yakin leluconnya berhasil, tapi respons sebenarnya hanya bisa diketahui dari audiens yang menjadi target. Misalnya, lelucon “Bubur apa yang genit? Bubur sumsum!” dapat diadaptasi menjadi “What porridge flirts? Creamy charm!” lalu dites pada penutur bahasa Inggris. Dari reaksi mereka, penerjemah bisa tahu apakah humornya berhasil atau perlu diperbaiki. 

   Lima cara di atas menunjukkan bahwa menerjemahkan humor butuh rasa dan akal. Penerjemah bukan cuma memindahkan bahasa, tapi juga memastikan humor tetap lucu, walau dalam bahasa dan budaya yang berbeda.