Peninggalan Jejak Bahasa Belanda Terhadap Bahasa Indonesia
Sumber gambar: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20240624073214-134-1113237/alasan-netherlands-disebut-belanda-di-ri
Bahasa Indonesia yang kita gunakan sehari-hari ternyata bukan sesuatu yang benar-benar asli. Bahasa ini terbentuk dari campuran berbagai budaya dan bahasa yang pernah singgah di Nusantara. Dari Sanskerta, Arab, Portugis, Inggris, hingga Belanda, semuanya meninggalkan jejak. Dari sekian banyak bahasa itu, Belanda punya pengaruh yang sangat kuat terhadap kosakata kita. Wajar saja, karena Indonesia pernah berada di bawah penjajahan Belanda selama lebih dari tiga abad.
Sejak awal abad ke-17, Belanda datang dengan tujuan berdagang, namun perlahan berubah menjadi kolonialisme. Dalam sistem kolonial, bahasa Belanda digunakan sebagai bahasa resmi, terutama di bidang pemerintahan, hukum, dan pendidikan. Orang-orang yang bekerja di kantor pemerintah atau bersekolah di lembaga kolonial mau tak mau harus mengenal bahasa Belanda, meski masyarakat umum tetap setia pada bahasa daerahnya masing-masing.
Dari situ, perlahan kata-kata Belanda meresap ke dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar berkaitan dengan hal-hal baru yang diperkenalkan Belanda, mulai dari peralatan rumah tangga, istilah teknologi, hingga kata-kata administrasi. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, bahasa Belanda memang tidak lagi menjadi bahasa resmi. Namun warisannya sudah telanjur melekat kuat dalam bahasa Indonesia, dan banyak kosakata yang akhirnya bertahan sampai sekarang.
Ada beberapa alasan kenapa kata-kata serapan itu masih terus kita gunakan. Pertama, kata-kata tersebut praktis dan mudah diucapkan, apalagi setelah dilafalkan sesuai lidah orang Indonesia. Kedua, banyak istilah Belanda yang dipakai di bidang penting seperti hukum, birokrasi, dan pendidikan. Kata seperti notaris atau faktur misalnya, masih dipakai hingga sekarang karena sulit mencari pengganti yang sama fungsinya. Ketiga, beberapa kata sudah begitu populer sampai terasa aneh kalau diganti dengan istilah lokal. Kata kantor adalah contoh paling jelas. Walau bahasa Jawa punya istilah paseban, orang Indonesia lebih nyaman memakai kata kantor.
Kosakata Belanda yang Masih Kita Pakai
|
Bahasa Indonesia |
Bahasa Belanda |
Arti |
|
Kantor |
Kantoor |
Tempat bekerja (office) |
|
Lemari |
La(m)arij |
Tempat menyimpan barang |
|
Meja |
Tafel |
Perabot untuk menaruh benda |
|
Kursi |
Stoel |
Tempat duduk |
|
Sepatu |
Schoen |
Alas kaki |
|
Rok |
Rok |
Pakaian bawahan wanita |
|
Gratis |
Gratis |
Tanpa biaya |
|
Polisi |
Politie |
Petugas keamanan |
|
Asbak |
Asbak |
Wadah abu rokok |
|
Korden |
Gordijn |
Tirai/jendela |
|
Kompor |
Komfoor |
Alat memasak |
|
Bioskop |
Bioscoop |
Gedung pertunjukan film |
|
Faktur |
Factuur |
Dokumen transaksi |
|
Stasiun |
Station |
Tempat kereta berhenti |
|
Sepur |
Spoor (trein) |
Rel kereta/kereta api |
Beberapa kata nyaris tidak berubah sama sekali, seperti gratis dan asbak, sementara yang lain mengalami penyesuaian bunyi agar lebih mudah diucapkan, contohnya gordijn menjadi korden atau komfoor menjadi kompor. Perubahan kecil ini menunjukkan bagaimana kosakata asing beradaptasi dengan sistem bahasa lokal, sehingga bisa bertahan dan dipakai lintas generasi.
Jejak bahasa Belanda dalam bahasa Indonesia pada akhirnya menjadi bukti bahwa bahasa selalu bergerak bersama sejarah. Dari dapur di rumah hingga gedung stasiun kereta, dari kantor tempat kita bekerja sampai bioskop tempat menonton film, kita tanpa sadar masih menggunakan kata-kata yang diwariskan Belanda. Setiap kali kita menyebut kata sederhana seperti gratis atau stasiun, sebenarnya kita sedang menghidupkan kembali potongan kecil dari sejarah panjang bangsa ini.
Sumber