Strategi Semantis dalam Penerjemahan
Source of picture: https://www.terjemahinggrisindonesia.com/proses-penerjemahan.html
Mengapa Strategi Semantis Penting?
Penerjemahan bukan hanya soal mengganti kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Lebih dari itu, penerjemahan itu adalah proses menyampaikan kembali makna tanpa kehilangan nuansa dan konteks budaya dari bahasa sumber. Bayangkan kalau sebuah teks hanya diterjemahkan secara harfiah, hasilnya bisa terdengar kaku, bahkan salah makna. Di sinilah peran strategi semantis menjadi penting.
Strategi semantis adalah pendekatan dalam penerjemahan yang menekankan pada makna kata, frasa, hingga kalimat. Tujuannya bukan hanya akurat secara bahasa, tetapi juga agar teks terdengar alami, enak dibaca, dan relevan dengan pembaca bahasa sasaran.
Jenis-jenis Strategi Semantis
1. Borrowing
Borrowing adalah strategi paling sederhana: mengambil kata dari bahasa sumber (BSu) langsung ke bahasa sasaran (BSa). Kata ini bisa dipertahankan apa adanya atau disesuaikan penulisan dan pengucapannya agar sesuai dengan aturan bahasa sasaran.dalam borrowing juga terdapat dua jenis lainnya yaitu transliterasi dan naturalisasi.
Transliterasi adalah terjemahan yang mempertahankan kata – kata dalam bahaa sumber benar benar secara utuh dan tidak ada perubahan dalam segi pengucapan maupun tulisan. Sedangkan naturalisasi adalah strategi penerjemahan yang sudah diadaptasi dengan bahasa sasaran penulisannya dan oengucapannya sesuai dengan tata bahasa di bahasa sasaran.
Contoh Transliterasi:
-
Orangutan → Orangutan
-
Epidermis → Epidermis
-
Mall → mal
-
Computer → Komputer
Namun, penerjemah harus hati-hati terhadap fenomena faux amie atau “teman palsu”. Misalnya kata ambition dalam bahasa Inggris berarti cita-cita yang kuat dan bersifat netral. Tetapi setelah dipungut ke bahasa Indonesia menjadi ambisi, maknanya bergeser menjadi keinginan berlebihan dengan konotasi negatif.
2. Cultural Equivalence
Budaya tiap bahasa berbeda, sehingga ada istilah yang tidak bisa diterjemahkan mentah-mentah. Dengan strategi ini, penerjemah mengganti istilah khas budaya BSu dengan istilah yang juga khas di BSa.
-
Jaksa Agung → Attorney General
-
Sonovabitch → Si Brengsek
Hasilnya mungkin tidak persis sama, tetapi pembaca akan lebih mudah memahami karena menyesuaikan dengan bahasa sasarannya sehingga makna akan tersa sama dan tersampaikan kepada para pembaca atau pendengar.
3. Descriptive Equivalent dan Componetial Analysis
Kadang ada istilah yang terlalu khas budaya sehingga perlu dijelaskan maknanya. Misalnya kata samurai tidak cukup diterjemahkan sebagai “bangsawan” karena bisa saja target audience tidak mengerti dengan istilah tersebut apakah itu bangsawan atau senjata berupa pedang yang digunakan bangsawan. Akan lebih tepat jika diterjemahkan menjadi “aristokrat Jepang abad 11–19 yang menjadi pegawai pemerintahan”.
Componential analysis hampir mirip, tapi biasanya digunakan untuk kata-kata umum. Contohnya kata “luwes” diterjemahkan sebagai “bergerak dengan halus dan anggun”.
4. Sinonim
Jika analisis komponensial terasa terlalu panjang, penerjemah bisa memakai kata yang maknanya mirip.
-
cute → lucu
Meskipun tidak terlalu identik, penggunaan sinonim membuat kalimat lebih ringkas untuk dimengerti dan alami.
5. Terjemahan Resmi
Beberapa istilah asing sudah memiliki padanan resmi dari lembaga bahasa atau istilah yang memang sudah masuk kedalam kamus resmi negara. Menggunakan terjemahan resmi ini lebih aman karena konsisten dan diakui secara luas.
-
read-only memory → memori simpan tetap
Selain memudahkan, strategi ini juga membantu menjaga perkembangan bahasa Indonesia agar lebih teratur.
6. Penyusutan dan Perluasan
Strategi ini berkaitan dengan jumlah elemen kata.
-
Penyusutan: automobile → mobil
-
Perluasan: whale → ikan paus
Dengan cara ini, makna kata tetap jelas dan tidak menimbulkan kebingungan.
Menggabungkan Strategi untuk Hasil Terbaik
Dalam praktiknya, penerjemah jarang hanya menggunakan satu strategi. Sebagian besar teks diterjemahkan dengan kombinasi strategi yang berbeda. Bahkan, ada kalanya strategi ini berjalan otomatis tanpa disadari penerjemah.
Misalnya dalam teks ilmiah, kata teknis mungkin saja diambil apa adanya, tetapi kalimat pendukungnya bisa memakai padanan budaya atau sinonim agar tetap enak dibaca. Dalam teks sastra, penerjemah sering memakai deskripsi atau perluasan supaya nuansa cerita tetap terjaga.
Penerjemahan bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga proses menyeimbangkan kesetiaan pada teks asli dengan pemahaman pembaca sasaran. Strategi semantis memberi panduan agar terjemahan tidak kehilangan makna, tetap alami, dan bisa dinikmati siapa saja.
Source:
Suryawinata, Z., & Hariyanto, S. (2016). “Translation: Bahasan teori dan penuntun praktis menerjemahkan” (Edisi revisi). Malang: Media Nusa Creative.
.